Cara-Cara Menghindar Perbuatan Riya
Pernahkah Anda melakukan sebuah amalan, lalu memamerkan atau memberitahukan kepada orang lain dengan maksud untuk mendapatkan pujian?
Berhati-hatilah, barangkali hati telah terjangkit penyakit riya’. Sifat riya’
sangatlah berbahaya. Riya’ bisa menghapus pahala, dijauhi oleh Allah SWT dan
celaka di akhirat. Bahkan Nabi Muhammad SAW menggolongkan riya’ ke dalam syirik
kecil. Sebagaimana sabda beliau:
” Sesuatu yang sangat
aku takutkan yang akan menimpamu ialah syirik kecil . Nabi Muhammad saw ditanya
tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu , maka beliaupun menjawab yaitu
riya’. ” (HR.Ahmad)
Menghindari sikap riya’ memang bukanlah perkara yang mudah. Sebab
pada dasarnya sifat manusia itu senang dipuji. Hanya orang-orang tertentu
berhati ikhlas yang bisa menghindari sifat riya’. Nah, berikut ini beberapa
cara menghindari riya’ yang bisa Kita praktekkan langsung di kehidupan sehari-hari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi
setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan”. (H.R.Bukhari Muslim)
Cara menghindari riya’ yang pertama yakni dengan meluruskan
niat. Ingatlah bahwa segala macam perbuatan kita tergantung pada niatnya. Apabila
niat kita baik, Lillahi Ta’ala (hanya karena Allah SWT) maka insyaAllah itu
akan dicatat sebagai pahala. Sebaliknya, jika terbesit rasa ingin dipuji oleh
manusia maka perbuatan kita tidak memperoleh apapun. Bahkan bernilai dosa. Maka
itu, sebelum melakukan sesuatu pastikan untuk memperbaiki niat dalam hati. (baca:
Penyakit Hati Menurut Islam)
Berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT
Manusia adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Kita
bisa menghandle segala hal hanya dengan menggandalkan diri sendiri. Sudah
menjadi keharusan bagi kita untuk melibatkan Allah dalam segala urusan.
Termasuk berlindung dari sifat-sifat yang tercela seperti riya’. Jangan pernah
lelah berdoa kepada Allah agar diperkuat keimanan dan dilindungi dari bisikan-bisikan syetan.
Menyadari kedudukan diri hanyalah seorang hamba
Manusia terkadang sering lupa diri. Kenikmatan dunia yang
begitu memukau (seperti harta benda, kedudukan, wajah yang rupawan, dan
keturunan) kerapkali membuat manusia menjadi sombong dan riya’ (pamer). Padahal
semua kenikmatan tersebut adalah pemberian dari Allah SWT. Tapi manusia sering kali menanggappi itu semua diperoleh dari usahanya sendiri. Na’udzubillahi mindzalik. Pemikiran inilah
yang kemudian memicu munculnya penyakit hati. Hingga membawa manusia ke dalam
kesesatan.
Hendaknya kita menyadari bahwa kita hanyalah hamba Allah.
Ciptaan Allah. Tak ada yang kita miliki di dunia ini. Semuanya hanya titipan
yang bersifat fana dan pasti akan musnah. Apabila hati kita sanggup menyadari
hal tersebut maka insyaAllah kita akan terhindar dari sifat riya’.
Mengendalikan hati
Berusahalah mengendalikan hati agar tidak terbuai dengan
pujian manusia. Sebuah pujian memang bisa memotiviasi diri menjadi lebih baik.
Namun sebaliknya, terkadang pujian juga bisa menjadi racun hingga membuat kita
jadi riya’. Maka dari itu, cobalah untuk tidak berbangga diri. Ingatlah dan
terus mengingat bahwa apa yang kita lakukan saat ini semata-mata karena izin
Allah SWT. Kita mampu beramal karena diberikan rezeki berkecukupan. Kita bisa
sholat dengan sempurna karena diberikan kesehatan. Jadi berterimakasihlah pada
Allah SWT.
Memperbanyak bersyukur
Bersyukur dapat menjadi salah satu cara menghindari sifat
riya’. Dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT, kita tidak akan
terlalu mengharapkan pujian dari orang lain. Cukup Allah yang menjadi saksi
hidup kita. Dan sering-seringlah mengucapkan Alhamdulillah. Jangan sampai kita
pamer ibadah hanya agar banyak teman, agar dicintai, diagung-agungkan atau
mungkin agar naik jabatan. Percayalah pujian dari manusia tidak akan
berlangsung selamanya. Lebih syukuri apa yang ada dan niatkan segala sesuatu
hanya untuk Allah SWT. (baca: cara bersyukur menurut islam –Manfaat ucapan
Alhamdulillah)
Terus-menerus mengingat Allah Ta’ala
Telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwasahnya syaitan tidak
akan pernah lelah menggoda manusia menuju jalan yang sesat. Sebab itu, manusia
harus sering meminta perlindungan kepada Allah, salah satunya lewat
berdizikir. Aktivitas dzikir akan
membuat kita terus mengingat Allah. Dengan demikian, syaitan akan sulit mencari
celah untuk masuk. Umumnya orang-orang yang gemar berlaku riya; jarang sekali
menyebut asma Allah, sebagaimana firmanNya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan
Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat
mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An
Nisaa’:142).
Sembunyikan amal kebaikan seperti menyembunyikan aib
Cara selanjutnya untuk menghindari riya’ yakni dengan
menyembunyikan ibadah dan amal-amal kebaikan. Tapi ibadah umum yang tidak bisa
disembunyikan, seperti solat jamaah di masjid, membaca Al-quran atau puasa tak
perlu ditutupi. Yang terpenting berusahalah ikhlas. Sedangkan ibadah yang
bersifat pribadi seperti beramal ke masjid, bersedekah, solat tahajjud
sebaiknya tak perlu dipamerkan. Cukup diri sendiri dan Allah Ta’ala yang tahu.
Sembunyikan amal kebaikan layaknya kita menyembunyikan aib-aib dalam diri.
Dengan demikian kita pun bisa terhindar dari pujian manusia dan jauh dari sifat
riya’.
Belajar ikhlas
Ikhlas adalah tiangnya sebuah amal shalih agar dapat
diterima oleh Allah. Seseorang yang beramal dengan niat ikhlas dan tidak
berharap pujian dari orang lain maka insyaAllah amalnya diterima oleh Allah
SWT.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah
bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak
melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu,
tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. (HR. Muslim)
Mengingat kematian
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan
(yakni kematian).” (HR At-Trimidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Jika memang sulit untuk menghindari riya’, cobalah
memperbanyak mengingat kematian. Baik di hati maupun lisan. Ingatlah bahwa
hidup tidak akan selamanya. Pujian manusia tidak berarti apapun dan tidak
mendatangkan pahala. Jadi, untuk apa mengejar pujian manusia? Pujian berlebihan
justru bisa menjerumuskan manusia ke lubang neraka.
Menggiatkan ibadah
Salah satu ciri orang yang suka riya’ biasanya ibadanya
tidak rutin. Kadang solat, kadang tidak solat. Kebiasaan ini membuat seseorang
semakin jauh dari Allah SWT. Hatinya semakin kosong, sehingga penyakit pun
mudah ‘hinggap’. Berbeda dari orang-orang yang khusyu’ dalam beribadah. Mereka
sering membaca doa, Al-Quran, bersolawat, solat juga rutin sehingga hatinya pun
menjadi tenang dan tidak mudah tergoda dengan pujian manusia.
Membaca buku-buku agama
Orang tidak berilmu biasanya mudah terjerumus ke jalan yang
sesat. Mudah ikut-ikutan dan tidak memiliki prinsip hidup. Ibnu Taimiyyah
rahimahullah mengatakan bahwa kebodohan dan kedzaliman adalah pangkal dari
segala keburukan. Maka sebab itu, agar tidak terbawa pada keburukan maka
perbanyaklah menggali ilmu pengetahuan. Khususnya ilmu agama. Karena agama
menjadi perkara penting yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.
Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda: “Menuntut ilmu merupakan
kewajiban atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
Dengan memperbanyak membaca buku-buku agama, kita bisa
memperoleh pengetahuan tentang bahayanya sifat riya’. Dan perihal pahala-pahala
yang dijanjikan oleh Allah SWT untuk orang-orang yang ikhlas. Dengan demikian
kita bisa semakin termotivasi untuk berbuat ikhlas.
Menyadari bahwa Allah selalu mengawasi
Cara menghindari riya’ selanjutnya dengan menyadari bahwa
Allah SWT selalu mengawasi kita. Bahkan disaat kita sendirian. Walaupun kita
tidak bisa melihat Allah, tapi Allah bisa melihat kita. Rasulullah shollalllahu
alaihi wasallam bersabda:
“Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu
tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu” (hadist Muttafaqun alaih)
Selalu mengingat bahaya riya’
Sebagian dari kita mungkin masih menganggap bahwa riya’
adalah hal yang sepele. Bahkan terkadang kita tidak sadar bahwa telah melakukan
riya’. Ketahuilah bahwa riya’ itu sifat yang sangat berbahaya. Riya’ tidak
hanya membuat kita terjerumus ke neraka, tapi riya’ juga dianggap syirik kecil,
menghapus amal pahala, dan dianggap lebih kejam dari fitnah Dajjal.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian
apa yang lebih aku takutkan bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al
Masih Ad Dajjal?” “Iya”, sahut sahabat. Beliau pun bersabda, “Syirik khofi
(syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar
dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Hidup dalam kesederhaan
Walaupun kita memiliki banyak harta, kerabat atau teman,
sebaiknya jangalah bersikap sombong. Cobalah untuk tetap sederhana dalam
bersikap. Kesederhaan membuat kita menjadi sosok yang lebih baik, ikhlas, dan
tidak mudah melakukan riya’. Tidak perlu memamerkan amalan kita agar dipuji.
Cukup bertindak sederhana, orang lain pasti bisa menilai apakah kita
benar-benar orang baik atau bukan.
Memperbanyak meminta ampun pada Allah
Sering-seringlah meminta ampunan kepada Allah SWT. Kita
manusia adalah tempatnya dosa dan khilaf. Terkadang bersikap pamer tapi tidak
menyadari. Oleh karena itu, perbanyaklah beristighfar agar dosa-dosa kita
dihapus oleh Allah. Dan teruslah memperbaiki diri dan bertaubat dari
perbuatan-perbuatan yang tercela.
Demikianlah beberapa cara menghindari riya’ yang bisa kita
lakukan. Intinya kita harus belajar ikhlas agar terhindar dari sifat riya’.
Serta tak lupa memohon pertolongan dari Allah SWT secara terus-menerus. Semoga
bermanfaat.

0 Response to "Beberapa Cara Agar Terhindar Dari Sifat Riya"
Posting Komentar