BAGAIMANA MENGURUS JENAZAH
1. Diampuni dosa-dosanya.
2. Mendapatkan pakaian dari sutra di Jannah.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من غسل ميتا فستره, ستره الله
من الذنوب, ومن كفنه كساه الله من السندس.
(حسنه الألباني في صحيح الجامع)
Makna dari merahasiakan adalah menutupinya dan tidak
menceritakan aib mayit, seperti luka atau cacat pada tubuhnya yang pada masa
hidupnya disembunyikan, maka setelah wafatnya pun harus dirahasiakan sebagai
penghormatan, juga aib-aib maknawiyah lainnya dari tanda-tanda meninggal su’ul
khatimah. Jika mayit terkenal kefasikan & kebid’ahannya, ahli ilmu
berpendapat bukan termasuk sunnah merahasiahkannya akan tetapi justru perlu
diberitakan keburukannya sebagai pelajaran bagi yang hidup & peringatan akan
kebid’ahannya.
SYARAT – SYARAT YANG MEMANDIKAN

1. Islam
2. Berakal 3.
Amanah 4. ‘Alim 5. Merahasiakan
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Yang paling
utama memandikan adalah yang diberi wasiat, kemudian kerabat yang lebih dekat
dan seterusnya.
2. Tidak terlalu
banyak orang.
3. Dua orang
‘alim & seorang dari kerabatnya yang lalai & suka berbuat maksiat.
4. Tidak
disyaratkan bersuci, itu hanya keutamaan. Wanita haid boleh memandikan.
5. Memandikan
tidak membatalkan wudhu kecuali jika menyentuh. Menurut pendapat yang kuat
tidak wajib baginya untuk mandi, namun disunnahkan untuk mandi & wudhu.
6. Menggunakan
air yang suci. Disesuaikan dengan suhu cuaca.
SYARAT TEMPAT MEMANDIKAN
1. Suci dan
Besih ( Tidak di WC atau Kamar Mandi )
2. Tertutup Atap
Dingdingnya
3. Tidak
Terdapat Patung dan Gambar Makhluk Bernyawa
1. Letakkan
mayit di atas tempat pemandian. Lepaskan pakaiannya dengan tetap menjaga &
menutup auratnya. Dudukkan & tekanlah perut mayit dengan tangan kanan
sambil diurut-urut 3 atau 5 kali untuk mengeluarkan sisa kotoran yang ada.
2. Gunakan
sarung tangan atau kain untuk membersihkan mayit di bawah kain penutupnya.
Pakai masker, celemek & sepatu bot.
3. Mulailah
dengan mewudukan mayit seperti wudhunya shalat.
4. Pemandian
pertama dengan menggunakan air yg dicampur daun bidara hingga berbusa. Takaran
dewasa lk. 1 ember air + 2,5 sloki daun bidara/1 cangkir. Anak kecil ½ dari
takaran dewasa.
5. Mulai dengan
membasuh kepala, wajah, dada & ketiak mayit 3x.
6. Mulai dengan
bagian sisi kanan mayit. Membasuh tangan mulai dari pangkal hingga pergelangan
tangan, pundak, pinggang hingga betis kanannya. Tuangkan air dari atas &
bawah kain penutup tanpa membuka aurat. Hal yang serupa dilakukan pada sisi
yang kiri. Posisi mayit masih dalam keadaan terlentang.
7. Kemudian
mayit dibalikkan dengan posisi bertumpu pada sisi kiri hingga punggung,
pinggang, paha & betis kanannya bisa dibersihkan. Mayit tidak boleh
ditelungkupkan. Hal serupa dilakukan pada sisi kiri mayit.
8. Tuangkan air
ke seluruh badan mulai dari kepala hingga kaki. Mayit dalam keadaan terlentang.
9. Lakukan hal
tersebut untuk kedua kalinya. Yang ketiga menggunakan air yang dicampur dengan
kapur barus. Bila kurang bersih, ulangi lima atau tujuh kali sesuai kebutuhan.
Semuanya kembali kepada ijtihad yang memandikan.
10. Setelah selesai
keringkan seluruh tubuhnya dengan kain/handuk. Ganti kain penutupnya dengan
yang baru dan kering dengan tetap menjaga auratnya.
11. Pindahkan mayit
dengan hati-hati ke tempat pengkafanan.
12. Memandikan
jenazah wanita sebagaimana jenazah pria, hanya saja setelah selesai dimandikan,
tambutnya digerai dan disisir kemudian dikepang menjadi tiga bagian kemudian
dikebelakangkan.
MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DALAM HAL INI
Pertama. Diharamkan lelaki memandikan mayit wanita demikian
juga Sebaliknya, kecuali dalam beberapa
keadaan berikut ini:
1. Suami Istri.
2. Wanita yang
sedang ditalak raj’i.
3. Mayit anak
berusia dibawah 7 (tujuh) tahun. Karena dianggap tidak memiliki aurat. Jika badannya besar sehingga
nampak padanya beberapa hal yang dapat menimbulkan fitnah. Lebih utama
dimandikan oleh wanita.
4. Seandainya
ada wanita yang meninggal di tengah-tengah kaum pria dan tidak ada wanita lain
bersamanya, maka mayit tersebut ditaya- mumkan. Begitu pula sebaliknya.
Kedua. Jika ada seorang wanita hamil, kemudian dia mengalami
keguguran. Apa yang harus dilakukan?
1. Jika usia
janin 4 (empat) bulan atau lebih, maka dia dimandikan, dikafani dan
dishalatkan, bahkan diberi nama & diaqiqahi.
2. Bila usianya
kurang dari 4 bulan, tidak perlu dimandikan dan dikafani tapi cukup dibungkus
dengan kain putih dan dikuburkan di pekuburan karena janin tersebut belum
ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga diperlakukan seperti anggota bagian tubuh
yang lainnya.
Ketiga. Apabila wanita hamil wafat, maka diharamkan membedah
perutnya & mengeluarkan bayinya. Karena biasanya bayi akan segera meninggal
setelah ibunya meninggal satu atau dua jam setelahnya. Mayit dimandikan
sebagaimana mestinya. Jika dokter memastikan
bahwa bayi yang ada dalam kandungan masih hidup, maka boleh
mengeluarkannya dengan berupaya terlebih dahulu melalui jalan keluarnya. Jika
tidak bisa, maka boleh dengan alternatif lain dengan azas lemah lembut dan tidak menyakiti sang
ibu serta atas dasar
pertimbangan dokter ahli.
Keempat. Orang kafir, murtad, dan meninggalkan shalat
selamanya (tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali), mayitnya tidak dimandikan, tidak
dikafani,tidak dishalatkan, serta tidak
boleh dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin.
Mayitnya dikubur dengan pasir di tempat yang jauh sekedar untuk menutupinya supaya tidak menyebarkan
bau.
Kelima. Orang yang terbunuh dengan sebab qishash atau had
seperti muhshan yang berzina atau terbunuh karena dzalim,
atau orang yang bunuh diri. Semuanya dimandikan, dikafani,
dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin, karena mereka adalah
pelaku dosa besar dan tidak keluar
dari agama Islam.
Keenam. Orang yang berihram dan haji apabila wafat cukup
dimandikan dengan air & daun bidara. Tidak diberi minyak wangi, dan tidak ditutupi kepalanya, serta dikafani dengan
pakaiannya.
Ketujuh. Memandikan anggota bagian tubuh mayit yang wajib
hanyalah satu kali
Kedelapan. Apabila keluar sesuatu dari perut mayit pada
pertengahan atau sesudah dimandikan,
maka hal ini tidak terlepas dari 4 keadaan berikut ini:
1. Jika keluar
sesuatu dari dua lubang disela-sela memandikan, maka cukup mandikan atau
bersihkan tempat keluarnya, kemudian diwudukan & mandikan hingga 5
kali. Apabila masih keluar najis setelah
itu, maka wudukan, terus mandikan hingga 7 kali setelah itu sumbat dengan kapas
atau kain.
2. Bila keluar sesuatu dari perutnya setelah
dimandikan, maka cukup wudukan saja.
3. Jika keluar
sesuatu dari perutnya setelah dikafani. Jika yang keluarnya sedikit, maka tidak
perlu diulang wudhu & mandinya. Cukup tempat keluarnya kotoran tadi dicuci
kafannya, namun apabila yg keluar banyak dan kotor, maka mandinya harus
diulang.
4. Jika keluar
sesuatu dari selain dua jalan, seperti muntah, darah, atau yang lainnya, maka
tidak perlu diulang tapi cukup dicuci tempatnya yang kotor. Namun jika yang
keluar itu banyak dan menyebabkan kotor, maka mandi dan wudunya perlu diulang.
Kesembilan. Jenazah yang syahid dalam peperangan, tidak
dimandikan & tidak dikafani. Namun
jika terkena luka pada waktu perang kemudian sempat dirawat sehari atau
beberapa hari lantas meninggal, maka mayitnya diperlakukan
sebagaimana lainnya.
Kesepuluh. Jika ada sebagian anggota badan yang terpotong,
maka cukup dibungkus dengan kain putih kemudian dikuburkan tanpa harus dicuci
& dishalatkan.
Kesebelas. Dimakruhkan berdebat & meninggikan suara
ketika memandikan.
Keduabelas. Jika ada anggota tubuh mayit yg terputus,
seperti kaki/tangan, maka anggota tersebut diletakkan di tempat asalnya &
dicuci sebagaimana yg lainnya.
Ketigabelas. Dimakruhkan memberikan bayaran kepada yg
memandikan, tapi apabila dibutuhkan, maka cukup mengambil dari Baitul Mal.
Keempatbelas. Apabila tidak terdapat daun bidara, maka dapat
diganti dengan yg Semisal seperti sabun mandi/sampo.
MENGKAFANI MAYIT
LANDASAN HUKUM
عن عائشة قالت: كفن الرسول صلى الله عليه وسلم في ثلاثة أثواب بيض
سحولية جدد, ليس فيها قميص ولا عمامة. والسحولية: نسبة إلى سحول – قرية في اليمن
-. (أخرجه البخاري ومسلم)
HAL-HAL YANG DIANJURKAN
1. Hendaknya
kain kafan yang digunakan bagi mayit laki-laki sebanyak tiga 3 (lapis).
Sedangkan bagi wanita sebanyak 5 (lima) lapis terdiri dari sarung, ghamis,
khimar, dan dua helai kain.
2. Menggunakan
kain yg bersih & baik serta menutupi seluruh tubuh.
عن أبي قتادة أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: إذا ولي أحدكم
أخاه فليحسن كفنه (رواه أبو داود والنسائي) وعند مسلم بلفظ إذا كفن أحدكم أخاه ...
3. Menggunakan
kain yang berwarna putih.
قال النبي صلى الله عليه وسلم: البسوا من ثيابكم البياض, فإنها
من خير ثيابكم, وكفنوا فيها موتاكم ...(رواه أحمد و أبو داود و الترمذي وقال حسن صحيح)
4. Memberikan
wewangian
عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا أجمرتم
الميت فأجمروه ثلاثا (رواه أحمد وإبن حبان وصححه الألباني في أحكام الجنائز). وأوصى
ابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم أن تجمر أكفانهم بالعود.
5. Tidak
berlebih-lebihan dalam kain kafan.
6. Menaburi kain
kafan dengan kafur.
7. Hendaknya
kain kafan yang terbaik diletakkan di bagian atas.
1.Cara Mengukur
Kain Kafan:
Panjang: Ukur panjang mayit dengan meteran dari mulai ujung
kepala hingga ujung kaki dengan melebihkannya kira kira 60 cm. contoh:
seandainya panjang mayit 170 cm, maka ditambah 60 cm sehingga keseluruhan
panjang 230 cm. penambahan panjang kain disesuaikan agar dapat mengikat ujung
kepala dan ujung kaki.
Lebar: Ukur lebar mayit mulai dari ujung bahu kanan mayit
hingga ujung kiri, kemudian hasil pegukuran dikalikan tiga. Contoh: jika lebar
mayit 40 cm, maka lebar kain yang dibutuhkan 40 x 3 = 120 cm.
Perhatian:
· Kain kafan
yang ideal berukuran panjang 280 cm dan lebar 180 cm untuk memudahkan
pemotongan sesuai dengan kebutuhan.
· Membuat
kira-kira 7 ikatan dari kain kafan yang panjangnya sesuai dengan lebar kain
yang telah diukur sesuai kebutuhan mayit. Lebar ikatan kira-kira 10 cm.
· Membuat
popok yang gunanya untuk menjaga kotoran yang dikhawatirkan keluar dari mayit.
Dengan lebar kira-kira 30 cm dan panjang kira-kira 100 cm.
2. Siapkan
keranda dekat dengan tempat pemandian, kemudian letakkan ikatan yang sudah
dipersiapkan di atas keranda dengan jumlah ganjil. Simpan di daerah kepala,
dada, perut, paha, lutut & kaki
3. Letakkan
lipatan kain pertama, dan dianjurkan kain yang terbaik dan yang paling bersih
untuk memperlihatkan kepada manusia dengan gambaran yang baik dan indah. Pada
bagian kepala dilebihkan kira-kira 40 cm dan bagian kaki 20 cm.
4. Letakkan
lipatan kedua dan ketiga di atas lipatan yang pertama dengan cara yang serupa.
Letakkan popok di atas kafan dekat dengan daerah dubur & selangkangan. Lalu
tambahkan kapas di atasnya.
5.Kain kafan
yang telah siap kemudian ditaburi wewangian & kapur barus. Kemudian
letakkan mayit di atasnya dengan hati-hati & tetap menjaga auratnya.
Letakkan kepala pada bagian yang telah dilebihkan serta duburnya di atas popok.
6. Buka kedua
kakinya untuk mengikat popok yang telah siap diantara dua kaki & perutnya.
Lakukan hal itu dibawah kain penutup agar aurat mayit tetap terjaga. Setelah
selesai rapatkan kembali kedua kakinya.
7. Oleskan
minyak wangi pada tubuh mayit & yang dianjurkan pada tujuh anggota sujud
(kening, lutut, telapak kaki, telapak tangan, hidung), dan di sela-sela
persendian.
8. Lalu ambil
ujung kain yang pertama (paling bawah/dalam) arah kanan kemudian lipat ke
sebelah kiri secara bersamaan mulai dari kaki
hingga kepala. Setelah itu pegang ujungnya dengan kuat dan lipat atau
putar. Lalu pegang lipatan ujung kain dengan tangan kiri, lalu ambil kain yang
kedua dan lakukan seperti yang pertama, begitu juga dengan kain yang ketiga.
9.Ikat dengan
kuat dan jadikan ikatannya di sebelah sisi kiri mayit. Selimuti mayit yang
telah dikafani agar benar-benar tertutup dan terjaga sebelum dikuburkan.
10.Untuk wanita
lakukan hal serupa bila tdk terdapat 5 helai kain yg dibutuhkan,
HAL-HAL YANG BERKAITAN DALAM MASALAH INI
1. Dimakruhkan
melebihi batasan kain kafan dari yang ditentukan.
2.Yang paling
utama mengkafani adalah yang diberi wasiat kemudian kerabat terdekat dan
selanjutnya.
3.Membeli kain
kafan dengan harta si mayit, kalau tidak ada maka keluarga yang menanggungnya,
dan bila tidak ada juga diambil dari harta kaum Muslimin (Baitul Mal).
4.Dimakruhkan
memberi kain kafan dari wol/rambut atau kain yang dicelup warna kuning.
Diharamkan mengkafani mayit dengan kulit.
5. Para Ulama
membenci membakar kain kafan.
6.Dilarang
memasukkan wewangian/kafur ke dalam mata mayit.
7.Disunnahkan
bilangan ikatan berjumlah ganjil.
8.Untuk mayit
anak laki-laki menggunakan tiga helai kain, sedangkan untuk anak perempuan dua
helai kain & satu ghamis.
9.Bila kain
kafan tidak mencukupi, maka tutup bagian kepalanya sedang sisanya ditutup
dengan ilalang atau rumput.
LANDASAN HUKUM
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صلى على جنازة ولم يتبعها,
فله قيراط. فإن تبعها فله قيراطان. قيل: وما القيراطان؟ قال: أصغرهما مثل أحد. (أخرجه
البخاري و مسلم)
SIFAT SHALAT JENAZAH
1.Letakkan
jenazah di hadapan imam. Imam berdiri di hadapan kepala mayit jika laki-laki.
Jika mayitnya perempuan, maka imam berdiri di tengah-tengah mayit. Kemudian
makmum berdiri di belakang imam.
والدليل على ذلك: ما رواه الترمذي عن أنس رضي الله عنه أنه صلى
على رجل فقام عند رأسه, ثم صلى على امرأة فقام حيال وسط السرير فقال له العلاء: أهكذا
رأيت الرسول صلى الله عليه وسلم قام على الجنازة مقامك منها, ومن الرجل مقامك منه؟
قال: نعم. فلما فرغ قال: احفظوا (أخرجه أبو داود والترمذي وإبن ماجه وأحمد وصححه الألباني
في أحكام الجنائز)
وأخرج الجماعة من حديث سمرة رضي الله عنه أنه صلى وراء الرسول صلى
الله عليه وسلم على امرأة ماتت في نفاسها, فقام وسطها. (أخرجه البخاري ومسلم)
• Disunnahkan
membuat tiga shaf (barisan).
• Disukai
yang menshalatinya jama’ah yang banyak
• Jika
mayitnya anak laki-laki & perempuan, maka posisi imam berdiri seperti pada
posisi mayit wanita dewasa.
• Tidak
mengapa bagi Imam meberitahukan jenis kelamin mayit kepada makmum, agar dapat
berdo’a sesuai dengan kata gantinya.
2. Imam
bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangannya, kemudian meletakkan
tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada. Kepala menunduk & pandangan
tertuju kepada tempat sujud.
3. Berta’awudz,
membaca basmallah, tidak membaca do’a iftitah, membaca surat al-fatihah.
Semuanya dibaca secara sir (pelan).
4.Imam takbir
yang kedua seraya mengangkat tangan kemudian membaca shalawat.
5. Kemudian
bertakbir yang ketiga sambil mengangkat tangan terus berdo’a bagi sang mayit.
قال الرسول صلى الله عليه وسلم : إذا صليتم على الميت فاخلصوا له
الدعاء (أخرجه أبوداود وإبن حبان والبيهقي من حديث أبي هريرة وحسنه الألباني)
6. Diantara do’a
yang disyari’atkan adalah sebagai berikut:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان إذا
صلى على جنازة يقول: اللهم اغفر لحينا وميتنا, وشاهدنا وغائبنا, وصغيرنا وكبيرنا, وذكرنا
وأنثانا, اللهم من أحييته منا فأحيه على الإسلام , ومن توفيته منا فتوفه غلى الإيمان.
اللهم لا تحرمنا أجره, ولا تضلنا بعده. (أخرجه أبوداود والترمذي وإبن ماجه والبيهقي
من طريق محمد بن إبراهيم التيمي عن أبي سلمة وصححه الألباني في أحكام الجنائز)
Diantara do’a yang disyari’atkan adalah sebagai berikut:
عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال: صلى الرسول صلى الله عليه وسلم
على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: اللهم اغفرله وارحمه, وعافه واعف عنه, وأكرم نزله,
ووسع مدخله, واغسله بالماء والثلج والبرد , ونقه من الخطايا, كما نقيت الثوب الأبيض
من الدنس, وأبدله دارا خيرا من داره, وأهلا خيرا من أهله, وزوجا خيرا من زوجه, وأدجله
الجنة , وأعذه من عذاب القبر – أو من عذاب النار- قال: حتى تمنيت أن أكون أنا ذلك الميت.
(أخرجه مسلم)
Jika mayitnya anak-anak, maka berdo’a sebagai berikut:
اللهم اجعله ذخرا لوالديه, وفرطا وأجرا وشفيعا مجابا, اللهم ثقل
به موازينهما, وأعظم به أجورهما, وألحقه بصالح سلف المؤمنين, واجعله في كفالة إبراهيم,
وقه – برحمتك – عذاب الجحيم.
Imam bertakbir terakhir, diam sejenak lantas salam seraya
memalingkan muka ke kanan satu kali.
MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DALAM HAL INI
Pertama. Hukum Shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah.
Kedua. Disyari’atkan shalat jenazah pada setiap:
1. Janin yang
gugur berusia empat bulan atau lebih.
2.Orang yang
mati syahid. Walaupun hukum asalnya tidak disholatkan akan tetapi bila
dilakukan itu lebih utama.
3.Orang yang
terbunuh karena hukuman had.
4.Orang fajir
yang banyak melakukan kemaksiatan.
5.Orang yang
memiliki hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasi hutangnya.
Ketiga. Diharamkan mensholati orang kafir, munafik dan yang
meninggalkan sholat wajib. Tidak boleh merasa kasihan dan tidak boleh
memohonkan ampun bagi mereka.
Keempat. Yang paling utama untuk mensholati mayit adalah
yang diberi wasiat, imam masjid dan kerabat keluarga mayit.
Kelima. Jika hanya terdiri dari seorang makmum, maka dia
berdiri di belakang imam.
Keenam. Lebih diutamakan agar mensholati mayit di luar
masjid dan hal ini adalah petunjuk yang sering dicontohkan oleh Rasulullah.
Tidak boleh mensholatinya di antara kuburan, tapi bila sudah dikuburkan maka
hal itu diperbolehkan.
Ketujuh. Tidak boleh mensholati mayit pada tiga waktu yang
terlarang kecuali darurat.
لحديث عقبة بن عامر رضي الله عنه: ثلاث ساعات كان رسول الله صلى
الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى
ترتفع, وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس, وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب.
(أخرجه مسلم)
Kedelapan. Wanita dibolehkan menghadiri sholat jenazah baik
sendiri maupun berjama’ah dengan syarat tidak sholat di kuburan, karena wanita
dilarang memasukinya.
TATACARA MEMBAWA JENAZAH
1. Letakkan
mayit di atas keranda dengan terlentang.
2.Tutup dengan
selimut/kain. Lebih disukai jika mayit wanita kerandanya ditutup denga
kubah/kayu.
3.Disunnahkan
yang membawa keranda sebanyak empat orang.
4.Disunnahkan
untuk bersegera dalam berjalan.
قوله صلى الله عليه وسلم: أسرعوا بالجنازة, فإن تك صالخة فخير-
لعله قال: تقدمونها عليه-, وإن تك غيرذلك فشرتضعونه عن رقابكم (أخرجه البخاري ومسلم)
5.Dibolehkan
bagi yang mengiringi jenazah untuk berjalan di depan, belakang, samping kanan
atau kirinya.
6.Tidak boleh
duduk hingga jenazah diletakkan di atas tanah
لحديث أبي سعيد رضي الله عنه مرفوعا: إذا رأيتم الجنازة فقوموا,
فمن تبعها فلا يقعد حتى توضع (أخرجه البخاري ومسلم)
7. Disunnahkan
bagi yang mengantarkan jenazah untuk khusyu’, berfikir akan perjalanannya, dan
mengambil pelajaran dari kematian, juga dengan apa yang akan dialami oleh sang
mayit. Tidak disukai tertawa, senyum, atau berbicara tentang urusan dunia.
قال سعد بن معاذ رضي الله عنه: ما تبعت جنازة فحدثت نفسي بغيرماهومفعول
بها.
1.Masukkan
mayit ke dalam kubur melalui bagian kaki kubur dengan memasukkan kepala
terlebih dahulu karena ia adalah bagian tubuh yang paling mulia. Namun bila hal
tersebut tidak memungkinkan, maka dari jalan mana saja yang mudah.
وعبد الله بن يزيد أدخل الحارث قبره من قبل رجلي القبروقال: هذه
السنة (أخرجه أبوداود والبيهقي وصححه الألباني في صحيح أبوداود)
2. Yang
memasukkan mayit ke dalam kubur adalah laki-laki. Yang diberi wasiat lebih
berhak untuk itu. Bila mayit tidak berwasiat, maka kerabat terdekatnya.
3. Bila
memasukkan mayit wanita, maka kuburnya ditutup agar terhindar dari pandangan
disaat penguburan. Sedangkan bagi mayit pria tidak diharuskan, kecuali bila ada
udzur seperti hujan.
4.Letakkan
mayit dengan lembut di dalam kubur dengan berbaring di sisi lambung kanannya,
karena dia menyerupai orang yang tidur dan menghadap kiblat.
5. Kemudian buka
dan lepaskan ikatan yang mengikat kafannya dengan tanpa membuka wajahnya,
karena yang demikian tidak ada dalilnya dan tidak pernah dilakukan oleh para
sahabat.
لقول عبدالله بن مسعود رضي الله عنه : إذا أدخلتم الميت القبر فحلوا
العقد.
6. Dekatkan dan
masukkan mayit ke dalam lahat, kemudian tahan dengan batu atau tanah di
depannya dan di pertengahan punggungnya agar mayit tidak berbalik dan jatuh.
7.Tutup lahat
dengan kayu. Tutup celah yang kosong antara kayu dengan tanah liat agar mayit
tidak kejatuhan tanah saat dikubur.
8.Dianjurkan
untuk melemparkan tiga kali genggaman tanah dengan kedua tangannya usai
penutupan liang lahat ke arah bagian atas kepala.
لحديث أبي هريرة رضي الله عنه أن الرسول صلى الله عليه وسلم صلى
على جنازة ثم أتى قبر الميت فحثى عليه من قبل رأسه ثلاثا (أخرجه ابن ماجه وجوده إسناده
النووي في المجموع وصححه الشيخ الألباني)
9.Masukkan
tanah ke dalam kubur dan tinggikan dari atas permukaan tanah sekedar sejengkal
kemudian dibentuk seperti punuk.
10. Perciki kubur
dengan air kemudian taburi dengan kerikil agar kubur menjadi kuat tidak terbawa
angin dan aliran air. Kemudian tandai dengan kayu atau batu pada bagian kepala.
11.Dianjurkan
setelah itu berdo’a untuk mayit.
ولحديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه
وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال: إستغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الآن
يسأل (أخرجه أبو داود والحاكم والبيهقي. وقال النووي في المجموع : رواه...بإسناد جيد)
والله أعلم
شكرا على اهتمامكم
جزاكم الله أحسن الجزاء
والعفو منكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sekian informasi seputar pengurusan jenazah semoga bisa bermanfaat bagi kita semua yang masih di beri umur oleh Allah SWT



0 Response to "URUTAN CARA MENGURUS JENAZAH"
Posting Komentar